»»

Hasil Perhitungan Suara Pilkada Biak Numfor Putaran Kedua : »» No urut 1: Yesaya Sombuk-Thomas Ondy [31.112 suara] ««»» No urut 2: Yotam Wakum-Mahanusu [24.779 suara] ««o»» [ Suara Sah: 55.891 || Update: 11/12, 15:25wit || KPU Biak Numfor ]

Asal-Usul Nama PAPUA

NAMA yang diberikan kepada wilayah yang paling timur ini asal mulanya ialah Irian Barat. Kata Irian mempunyai arti yang berbeda-beda dalam bahasa di Irian Barat. Dalam bahasa Biak Numfor Irian berarti “Tanah Panas” (Iri= tanah, an = panas), dalam bahasa Serui Irian berarti “Tanah Air” (Iri = tiang pokok, an = bangsa) dalam bahasa Merauke, Irian berarti “Bangsa Utama” (Iri = angkat, an = bangsa). [1] Terlepas dari arti perkataannya dalam berbagai macam bahasa di Irian Barat yang amat berbeda satu dengan lainnya, sebutan itu sudah lama dikenal orang-orang Indonesia yang merantau kedaerah Pantai utara dari Irian.

Dewasa ini, nama atau sebutan Papua untuk wilayah Indonesia diujung paling timur sudah biasa kita gunakan. Padahal dalam sejarah kaum Nasionalis, pernah sebutan itu tidak disukai bahkan ditolak keras oleh sebagaian penduduk yang mendiami wilayah Papua, karena maknanya dianggap merendahkan martabat rakyat. Frans Kaisepo adalah salah satu Tokoh pejuang Papua yang menolak keras penggunaan nama Papua dan mengusulkan nama Irian sebagai penggantinya Kaisiepo tentunya tidak sekedar usul atau mencari sensasi tanpa resiko berarti, justru sikapnya ini mengundang reaksi keras pihak pemerintah kolonial Belanda.[2]

Pada waktu itu nama Papua yang kita pakai sekarang ini, masih dinamakan Guinea Baru Barat, dan saat itu Kaisepo adalah seorang pribumi asli asal Biak yang menjadi pegawai Binnenlandsch Bestuur (Aministrasi Sipil Belanda) yang juga terpilih menjadi utusan konferensi Malino 1946 menggantikan tokoh lain seperti Silas Papare asli Serui yang dianggap keras sikapnya terhadap pemerintah Belanda.
Penolakan yang dilakukan oleh Frans Kaisepo juga menjadi polemik dengan tendensi politik. Hal ini diungkapkan oleh Residen Guinea baru Barat, Van Eechoud, bahwa nama yang diusulkan oleh seorang putra Irian, Frans Kaisepo, yang menjadi delegasi utusan wilayah Nieuw Ginea dalam Konferensi Malino 1946, ialah Irian. [3] Namun menurut Mansoben, nama tersebut sebetulnya adalah nama yang diusulkan oleh Markus Kaisepo untuk menggantikan nama Papua, karena nama tersebut seringkali disosialisasikan dengan kata hitam, bodoh, rambut keriting untuk menghina orang Irian oleh para petugas pemerintah dan guru-guru pada waktu itu yang berasal dari Indonesia Timur. [4]

Nama tersebut berasal dari kata Iryan dalam bahasa Biak artinya dalam proses memanas, suatu arti metaphor bagi wilayah yang sedang memasuki suatu zaman baru dalam sejarahnya, dan juga sebagai nama julukan bagi daerah tersebut yang memang beriklim panas. [5]

Dalam cerita lisan dikisahkan bahwa yang memberikan nama-nama terhadap sejumlah daratan di Papua adalah orang-orang dari Maluku, terutama dari Ternate dan Tidore. Konon nama "Papua" itu berasal dari bahasa Tidore, yang artinya "Rambut keriting", bahkan ada yang mengartikan bahwa sebutan tersebut sebagai tanda merendahkan, karena kosakata itu berarti "budak". [6]

Sejumlah data mengungkapkan bahwa Kesultanan Tidore mempunyai kekuasaan yang penuh atas daratan Papua, dalam arti bahwa daratan Papua itu dahulu merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Pengangkatan Kepala Daerah tertentu dengan pangkat dan atributnya semisal Kapitan, Mayor, sangaji, Dimara dan sebagainya, pada masa itu dilakukan oleh Sultan Tidore dengan suatu surat keputusan Sultan (besluit). Didapatkan misalnya sebuah besluit pengangkatan kepala wilayah dengan pangkat kapitan terhadap seorang pejabat bernama NAIDAMA di daerah Ugar, Distrik Sekar di Fakfak , tertanggal 5 Nopember 1929. Sekarang nama jabatan tersebut dilestarikan oleh masyarakat menjadi nama keluarga (marga atau fam).

Namun keunikan nama Papua sebagai salah satu Provinsi paling timur negara Republik Indonesia, sampai saat ini masih menyisakan sejarah tarik menarik asal usul nama Papua. Dalam sebuah catatan perjalanan sejarah Papua, pada awalnya merupakan sebuah pulau terbesar di dunia, namun belum mempunyai nama, sehingga saat itu hanya berbentuk sebuah daratan yang tidak dikenal. Hal ini sama dengan Austarlia saat itu yang hanya dikenal dengan nama Terra Australis Inconita (negeri selatan yang belum dikenal). Kepulauan Papua belum dikenal sama sekali sampai memasuki abad ke VI dan VII sesudah Masehi.[7]

Setelah abad VI dan VII sesudah Masehi, dikenal oleh bangsa luar melalui perdagangan dan pelayaran para pedagang Persia dan Gujarat serta pedagang-pedagang India ketika mereka melihat itu dengan menyebutnya Dwi Panta dan juga Samudranta yang artinya Ujung Samudra dan Ujung Lautan. Dua abad kemudian, yakni pada abad ke VIII para pelaut dan pedagang China yang memang telah dikenal sangat ulung melakukan transaksi dagang dengan membeli Burung Nuri, Kakaktua, dan menukarnya dengan benda-benda porselin yang digunakan oleh masyarakat Irian sampai dengan saat ini.[8]

Pulau asal rempah-rempah ini oleh bangsa China diberi nama Tungki. Hal ini dapat diketahui setelah mereka menemukan sebuah catatan harian seorang pedagang China Chou Yu Kuan yang menggambarkan bahwa asal rempah-rempah yang mereka peroleh tersebut berasal dari Tungki, nama yang digunakan oleh para pedagang China yang menyebut pulau Irian ketika itu. Pada abad yang sama, yaitu abad VIII para pedagang dan pelaut Sriwijaya mengenalnya dengan nama Janggi.[9]

Pada awal abad XVI Masehi tahun 1500-1800 Antonio d’Arbau pada tahun 1511 dan Francesco Serano di tahun 1521 menyebut wilayah besar itu dengan nama “Os Papuas” atau juga llha de Papo dan Don Jorge de Menetes juga sempat mampir di Irian beberapa tahun kemudian (1526-15271, ia menamakan Papua. [10] Nama Papua diketahui dalam catatan harian Antonio Figafetta, juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia menyebut dengan nama Papua. Nama Papua ini diketahui Figafetta saat ia singgah di pulau Tidore. Kalau bahasa Tidore Papo ua artinya tidak bergabung atau tidak bersatu (not integrated), tetapi dalam bahasa melayu berarti berambut keriting. [11]

Kedua bahasa tersebut diatas, tidak dapat membenarkan salah satunya, sebab pada saat yang bersamaan Malaka yang penduduk aslinya suku bangsa Melayu merupakan pusat pelayaran dan perdagangan pelaut Eropa di Asia Tenggara. Sementara Tidore merupakan pusat tujuan utama para pelaut dan pedagang untuk mencari rempah-rempah.[12]

Sekalipun nama Papua, selalu diidentikkan orang luar dengan kaum keriting, hitam, penduduk primitif, tertinggal, yang merupakan slogan yang tidak mempunyai arti apapun dengan nama Papua, namun penduduk pribumi menerima nama tersebut dengan baik, sebab nama Papua itu mencerminkan identitas mereka sebagai manusia hitam, keriting, dan jika dilihat dari bahasa melayu, mereka tidak bergabung dengan kerajaan Tidore menurut bahasa Tidore.

Pada tahun 1528, Alvaro de Savedra, seorang pimpinan armada laut Spanyol menancapkan jangkar kapalnya di pantai utara kepulauan Irian. Ia memberi nama pulau itu dengan sebutan Isla de Oro atau Island of Gold yang artinya Pulau Emas. Dengan penyebutan Isla Del Oro membuat tidak sedikit pula para pelaut Eropa yang datang berbondong-bondong untuk mencari emas yang terdapat di pulau emas tersebut. Pelaut Spanyol lain bernama Ini go Oertis de Retes nama Nueva Guinea, karena ia melihat penduduknya hanpir mirip dengan penduduk Guinea di Afrika barat. Dengan demikian maka kedua nama Papua dan Nieu Guinea digunakan secara umum pada abad yang bersamaan. [13]

Nama Papua dipertahankan hampir dua abad lamanya, baru kemudian muncul nama Nieuw Guinea, dan kedua nama tersebut terkenal secara luas diseluruh dunia, terutama pada abad ke-19. Penduduk nusantara mengenal dengan nama Papua dan sementara nama Nieuw Guinea mulai terkenal sejak abad ke-16 setelah nama tersebut tampak pada peta dunia sehingga dipakai oleh dunia luar, terutama di negara-negara Eropa. [14]

Selanjutnya pada tahun 1940-an oleh Residen JP Van Eechoud yang telah membentuk sekolah Bestuur menganjurkan dan memerintahkan Admoprasojo selaku Direktur Sekolah Bestuur untuk membentuk dewan suku-suku. Didalam kegiatan dewan ini salah satunya adalah mengkaji sejarah dan budaya Irian, termasuk mengganti nama pulau Papua dengan sebuah nama yang mencerminkan budaya Papua, dan nama tersebut harus digali dari bumi Papua.[15]

Dengan mengadakan pertemuan di Tobati, ide penggantian nama tersebut dibentuk dalam sebuah panitia yang nantinya akan bertugas untuk menelusuri sebuah nama yang berasal dari daerah Papua dan dapat diterima oleh seluruh suku yang ada. Frans Kaisepo selaku ketua Panitia kemudian mengambil sebuah nama dari sebuah mitos Mansren Koreri, sebuah legenda yang termahsyur dan dikenal luas oleh masyarakat luas Biak, yaitu Irian. Dalam bahasa Biak Numfor “Iri” artinya tanah, "an" artinya panas. Dengan demikian nama Irian artinya tanah panas. Pada perkembangan selanjutnya, setelah diselidiki ternyata terdapat beberapa pengertian yang sama di tempat seperti Serui dan Merauke. Dalam bahasa Serui, "Iri" artinya tanah, "an" artinya bangsa, jadi Irian artinya Tiang bangsa, sementara dalam bahasa Merauke, "Iri" artinya ditempatkan atau diangkat tinggi, "an" artinya bangsa, jadi Irian adalah bangsa yang diangkat tinggi. [16]

Akhirnya setelah mendapat persetujuan, pada tanggal 16 Juli 1946, Frans Kaisepo yang mewakili dalam konferensi Malino melalui pidatonya yang berpengaruh terhadap penyiaran radio nasional, mengganti nama Papua dan Nieuw Guinea dengan nama Irian. Selanjutnya nama Irian dipolitisasi lewat para pejuang merah putih seperti Marthen Indey, Silas Papare dan lain-lain. [17]

Nama Irian secara umum digunakan setelah 1 Mei 1963 dengan sebutan Irian Barat, dan kemudian pada tanggal 1 Maret 1973 sesuai dengan peraturan Nomor 5 tahun 1973 nama Irian barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto dengan nama Irian Jaya. Penggantian nama tersebut dilakukan bersamaan dengan peresmian eksplorasi PT Freeport Indonesia yang pusat eksploitasinya dinamakan Tembagapura. [18]

Penyelidikan ahli bahasa dan antropolog itu telah didahului oleh para sarjana raksasa seperti Wilhelmi Van Humboldt, v.d. Gabelenz, Fr. Muller, Codrington, Bopps, dan H. Kern dan menimbulkan kesimpulan bahwa bahasa-bahasa penduduk asli di daerah yang dinamainya Bumi Austronesia (artinya Kepulauan Selatan) menunjukan bahwa persatuan rumpun bahasa ke dalam daerah itu termasuk pulau Madagaskar, Formaosa Timur, Kepulauan Philipina, Hawai, dan seluruh kepulauan Indonesia terhitung dengan Irian Barat.[19]

Sejak dari abad ke 16 sampai abad ke XIX maka persatuan bagian Timur Indonesia tetap dilaksanakan oleh kekuasaan yang dipegang oleh kerajaan Tidore dan Bacan. Juga dari pihak Irian sendiri ada masanya persatuan itu dijalankan. Abad ke 16 ialah awal permulaan orang kulit putih datang mengunjungi daerah Irian Barat dan menjalankan perampasan tanah. Orang Eropa yang pertama kali tiba adalah orang Spanyol bernama Ynigo Ortiz de Retes.[20]

Orang Belanda merampas tanah tersebut sejak tahun 1828 dan perampasan diulang sekali lagi pada tahun 1848 dalam suatu pernyataan jajahan. Semenjak itu lahirlah perbatasan India Belanda menurut garis 141 derajat utara Selatan di perengahan pulau Irian. Garis itu menjadi perbatasan India Belanda yang paling Timur.

Sebelum abad XX, maka perbatasan India Belanda memang kurang tertentu, karena yang disebutkan dan dikenalkan hanyalah beberapa kantor dagang Kompeni saja. Untuk menyatakan persatuan ke daerah Indonesia beberapa kali disebut India Timur, seperti terdapat dalam perjanjian international : perjanjian Munster (1640).

Dunia barat telah mengenal Papua, ketika para avonturist mereka berlayar menjelajah dunia. Misalnya Bangsa Portugis dan Spanyol yang pada abad XVII merupakan bangsa bahari, pernah singgah dan berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Karena dalam pandangan mereka baik tanah maupun penduduk aslinya hampir sama dengan daerah dan masyarakat Guinea di Benua Afrika yang telah lebih dahulu dikunjungi, maka daratan pulau ini diberi nama Nova Guinea; kemudian orang Inggris menyebutnya New Guinea sedang orang Belanda menyebut Nieuw Guinea alias Guinea Baru.

Berbagai nama diberikan kepada daerah yang sekarang bernama Papua, bahkan ada yang menyebutkannya sampai sejumlah 14 nama. (Ramandey, 1999), nama Irian, yang pada tahun 2002 diubah menjadi Papua, sesungguhnya berasal dari kosakata bahasa asli daerah setempat. Di daerah Biak, konon kata “ Irian berarti tanah yang berhawa panas, sedang di daerah Serui berarti “tanah air“, sementara di Merauke berarti “bangsa utama “.[21]

Sejak Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, nama Irian secara resmi telah digunakan. Adalah seorang putra Papua yang merupakan tokoh pejuang bernama Frans Kaisiepo yang pertama kali mengusulkan pemakaian nama “Irian “ dalam Konperensi Malino tanggal 16 sampai 22 Juni 1946. Untuk membedakannya dengan bagian timur pulau Irian yang saat itu merupakan bagian dari Australia, maka bagian barat pulau Irian di sebut Irian Barat, dan sejak itu menjadi nama resmi daerah ini, dan barulah pada tahun 1973 nama Irian Barat diganti menjadi Irian Jaya.[22]

Memasuki era reformasi sebagian masyarakat menuntut penggantian nama Irian Jaya menjadi Papua dan Presiden Abdurrahman Wahid memenuhi permintaan sebagian masyarakat tersebut. Dalam acara kunjungan resmi kenegaraan Presiden sekaligus menyambut pergantian tahun baru 1999 ke 2000, pagi hari tanggal 1 Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid memaklumkaan bahwa nama Irian Jaya saat itu dirubah namanya menjadi “Papua“ [23]

Penamaan Provinsi Papua yang mendapatkan legitimasi berdasarkan Undang-Undang No. 21 tahun 2001, menjadikannya sebagai Daerah Provinsi Otonomi Khusus, berlaku sejak tanggal 7 Januari 2002. Terdapat bukti kesejarahan bahwa sejak lama telah terjalin berbagai bentuk komunikasi antara Papua dengan daerah lain di Kepulauan Nusantra, baik yang bersifat Politis, sosial, kultural dan juga religi. Demikian pula terdapat benda budaya purbakala yang menguatkan pendapat bahwa sejak zaman Mezolithicum, produk benda budaya masyarakat Papua banyak persamaannya dengan produk benda budaya masyarakat kawasan barat Indonesia.

--------------------------------------------
[1] H.W Bachtiar, , dalam Koentjoroningrat et.al., hal. 105

[2] Moh Yamin, Kedaulatan Indonesia atas Irian Barat Yaitu Uraian tentang Tuntutan Rakyat terhadap Wilayah Indonesia Bagian Barat, Bukitinggi Jakarta-Medan, Nusantara, 1956, hal 30-34

[3] Moh. Yamin, et.al., hal. 40

[4] Soerat Chabar Pejoeloeh, 8 September 1946 dan Penjelasan pribadi M W Kaisiepo kepada Sollewjn Gelpke, Sollewjn Gelpke JHF, 1993, "On the Origin of the name Papua", BKI, 149:318-332

[5] Mansoben, Josh Robert, “Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya, Indonesia: Studi Perbandingan” Disertasi Universty of Leiden, 1994, hal. 52-53

[6] Mansoben, Josh Robert, et.al.,, hal. 55-58

[7] H.W Bachtiar, , dalam Koentjoroningrat et.al., hal. 108

[8] N. g. J. van Schouwerburg, Het Geesttelijk en Maatscchappelijk werk der Zending, Oost en West, November 1955, h. 12 dalam Kheo Soe Khiam, et.al, hal. 186

[9] Moh Yamin, Kedaulatan Indonesia atas Irian Barat Yaitu Uraian tentang Tuntutan Rakyat terhadap Wilayah Indonesia Bagian Barat, Bukitinggi Jakarta-Medan, Nusantara, 1956, hal 30-34

[10] Decki Natalis Pigay BIK, Pengantar Lance Castles, Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua (Sebelum, saat dan sesudah Integrasi), Pustaka Sinar harapan, Jakarta, 2000, hal.93-94

[11] N. g. J. van Schouwerburg, Het Geesttelijk en Maatscchappelijk werk der Zending, Oost en West, November 1955, h. 12 dalam Kheo Soe Khiam, et.al, hal. 192

[12] N. g. J. van Schouwerburg, et.al., hal 195

[13] Idris Yusuf dalam Warta Irian Jaya, Biro Humas Setwilda Irian Jaya, Edisi 31/32 tahun 1998, hal. 9

[14] Idris Yusuf dalam Warta Irian Jaya, Biro Humas Setwilda Irian Jaya, et.al., hal. 10

[15] Idris Yusuf dalam Warta Irian Jaya, Biro Humas Setwilda Irian Jaya, et.al., hal. 15

[16] N. g. J. van Schouwerburg, Het Geesttelijk en Maatscchappelijk werk der Zending, Oost en West, November 1955, h. 32 dalam Kheo Soe Khiam, et.al., hal. 155

[17] Lihat : Kasibi Suwiryadi, Sejarah Dakwah Islam di Tanah Papua, dalam Surat laporan kepada ketua LPTQ/ Ketua Khalfah STQ Kabupaten/kota se Provinsi Papua, 3 Juni 2002

[18] Idris Yusuf dalam Warta Irian Jaya, Biro Humas Setwilda Irian Jaya, et.al., hal.21

[19] Idris Yusuf dalam Warta Irian Jaya, Biro Humas Setwilda Irian Jaya, et.al., hal.25

[20] Idris Yusuf dalam Warta Irian Jaya, Biro Humas Setwilda Irian Jaya, et.al., hal.27

[21] H.W Bachtiar, , dalam Koentjoroningrat et.al., hal. 127

[22] Koentjoroningrat, et.al, h. 58

[23] H.W Bachtiar, , dalam Koentjoroningrat et.al., hal. 110

Berikan Nilai:

1 komentar: