»»


Pilkada Kabupaten Biak 2018: Nomor urut 1 Paslon Andreas Msen - Yustinus Noriwari | Nomor urut 2 Herry Ario Nap - Nehemia Wospakrik | Nomor urut 3 Nicodemus Ronsumbre - Akmal Bachri

Peristiwa Naga di Korem

( Sebelum sobat membaca kisah ini lebih dahulu sobat membaca "Sebaran dan Daerah Pakai Bahasa Biak", sebagai keterangan dan sekilas sejarah. Jika sudah, silahkan lanjut..!!! )

Sejak dahulu penduduk pulau Biak cukup banyak. Mereka bermukim di Biak Utara, tepatnya di kampung Korem (desa Andei, sekarang pusat kota Distrik Korem Biak Utara). Kampung itu merupakan tempat pemukiman pertama atau tempat asal-usul orang-orang Biak yang sekarang tersebar keseluruh kampung di pulau Biak, Supiori, Numfor, dan pulau-pulau Padaido, bahkan sampai ke kepulauan Raja Ampat, yang sudah tentu pulau lain itu pun ada penduduk aslinya.

Secara etimologis kata korem berarti kita meminyaki; mengurapi; memberkati. Suku kata /ko/ ‘kita’ dan /rem/ ‘meminyaki’. Oleh karena itu, jelaslah bahwa tempat ini merupakan tempat pemberkatan leluhur orang Biak, yang seterusnya berkembang menjadi banyak kemudian tersebar memenuhi kabupaten Biak-Numfor.

Konon kabarnya, dipinggir kampung Korem itu berdiam pula seekor naga raksasa yang sangat buas. Sewaktu-waktu naga itu menyerang dan menelan semua yang dilihatnya, terutama manusia dan harta benda mereka. Saat-saat seperti itu masyarakat Korem merasa sebagai satu bencana yang sangat dahsyat da menakutkan. Masyarakat sudah tidak mampu lagi mengatasi buasnya naga itu. Karena itu, mereka menghindar dengan memilih pindah dari tempat itu dari pada mati konyol. Perlahan-lahan dan bertahap masyarakat Korem mulai berusaha meninggalkan kampung halaman mereka dengan pergi ke luar menuju ke Timur, Barat, dan Selatan. Mereka menghindar melalui darat dan laut dengan menggunakan perahu atau berjalan kaki.

Peristiwa keluarnya masyarakat Korem itu merupakan salah satu bentuk perpindahan penduduk di pulau Biak. Penyebaran tersebut mengakibatkan tersebarnya penduduk Biak di daerah-daerah lain selain di pulau Biak dan sekitarnya sampai saat ini. Hal tersebut tidak berarti bahwa tidak ada sebaran penduduk luar ke Biak. Kenyataan menunjukkan ada pula sebaran penduduk ke Biak, hanya kejadian itu terjadi kemudian.
>>Sumber: TATA BAHASA BIAK / oleh Christ Fautngil, Frans Rumbrawer,-- Jakarta : Yayasan Servas Mario, 2002

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!