»»

...

Eksplorasi Bunyi Papua

SUNYI merayap di tengah perkampungan pedalaman Papua. Seorang tua menatah bilah kayu dengan palu, membikin ukiran. Di tengah kesibukan itu, anak-anak suku pedalaman bermunculan satu per satu dalam arak-arakan. Mereka memakai koteka dan topi jambul khas daerah itu. Sunyi itu pun pudar oleh celoteh yang tak berkesudahan.


"Ribut! Sana main sama-sama. Bapak lagi kerja," orang tua itu menghardik dalam bahasa Papua agar mereka segera berlalu dan tak lagi mengganggu. Tak digubris, rupanya mereka memilih berpesta, bahkan mengajak dan menarik orang tua itu berdendang, yang selaras dengan bunyi tifa dan genderang.

Inilah secuplik adegan teatrikal berjudul Canda Suku Anak Dalam sebagai salah satu repertoar pada pertunjukan musik kontemporer Hentakan Papua karya Epi Martison di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat-Sabtu malam lalu. Selama dua jam, penonton disuguhi permainan seabrek alat perkusi, akapela yang dipadu dengan tari.

Pertunjukan yang melibatkan belasan seniman serta bintang tamu Micky Idol ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama menggambarkan suasana Papua yang damai dan subur. Adapun sesi kedua menggambarkan hal sebaliknya: peradaban luar mulai mengusik ketenangan mereka. Setiap sesi terdiri atas empat repertoar.

Dengarlah keseluruhan komposisi pada repertoar itu. Dimulai dengan entakan kaki yang teratur. Unisono dan tak saling berbalas. Lalu disusul nyanyian khas Papua, yang dibawakan secara akapela, bersahut-sahutan. Mereka berpijak pada nada yang dikeluarkan oleh didgeridoo--instrumen tiup dari kayu berbentuk panjang. Tifa dipukul bertalu-talu menggantikan entakan kaki. Bersahutan membentuk satu komposisi yang sangat perkusif.

Jimbe, Tifa, wood block, gonggong, dan hiter membaur menjadi satu. Di tangan Epi Martison, sang komposer dan music director sekaligus koreografer, musik itu memang menjadi sangat memukau. Ini, menurut Epi, "Sebagai wujud untuk melestarikan budaya bangsa sendiri agar tidak ditelanjangi oleh pihak lain."

Musik bergemuruh, tetapi Epi tak bermaksud membuatnya ribut. Tengoklah satu komposisi Marade Taro. Di sana ada dialog antara jimbe dan tifa. Nada perkusi yang dibawakan jimbe kemudian dijawab oleh tifa seperti satu suguhan berbalas. Komposisi ini melibatkan ciri khas Asmat, Wamena, Sorong, dan Biak. Eksplorasi bunyi mewujud nada-nada pendek dan repetitif.


Simbolisasi bertabur pada seluruh repertoar karya pria berdarah Minang yang belajar tari di Akademi Seni Karawitan Indonesia, Padangpanjang, dan Institut Kesenian Jakarta itu. "Dalam karya ini terlihat kepolosan, kejujuran, dan sensitivitas orang-orang Papua," ujar Epi.

Sifat konyol ia gambarkan dalam moving pemain yang mirip gerakan primata. Sifat kemalasan dikritik dengan simbol: beras yang diguyurkan dari atas panggung kepada salah satu pemain. Pada karya In Front of Papua itu, Epi ingin menggambarkan keadaan mereka di tengah surga sumber daya alam yang dimiliki. "Jangan sampai mereka seperti tikus mati di lumbung padi," ujarnya.

Respons terhadap perubahan dimaktubkan dalam karya Meengintah Fakuh (Mengintai). Di sini ia menggambarkan orang-orang menjadi waspada terhadap setiap perubahan keadaan, seperti kehadiran orang asing atau fauna yang mengancam posisi mereka. Repertoar ini dimainkan dalam pakem ritmis dengan perpaduan tempo 2/4, 3/4, 4/4, 5/8, hingga 7/8.

Bukan hanya warna konvensional. Pada karya Seya Seyo Sibye, rampak perkusi pun diimprovisasi. Ia memasukkan unsur di luar anatomi musik Papua. "Saya sengaja memasukkan itu sebagai simbol modernisasi di Papua," ujar Epi.

Melihat komposisi dan reportoar semacam itu mengingatkan kita akan grup musik khusus perkusi dari New York, Stomp. Kelompok ini menyuguhkan kombinasi yang unik antara permainan perkusi, gerak, dan terkadang visualisasi komedi. Mereka memanfaatkan segala macam alat bekas, seperti tong sampah logam, gelas, sapu, dan tongkat.

Musik tradisional Indonesia juga memberi ruang luas bagi eksplorasi bunyi yang kaya. Lantas kemudian muncul nama-nama musisi yang berkiprah pada komposisi kontemporer. Muncullah nama Rahayu Supanggah, Djaduk Ferianto, I Wayan Sadra, Nyoman Windha, Gde Yudane, A.L. Suwardi, dan masih banyak lagi lainnya.

Epi hanya salah satu dari mereka yang terus ingin budaya bangsa tidak menguap begitu saja. Karyanya tertata apik, enak didengar, dan rampak. Pun hasil koreografinya membikin cerita yang mampu menopang setiap repertoar. Membikin kaki tak sadar mengentak. [Ismi Wahid/TEMPO Interaktif]

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!