»»

...

Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih

Secara administratif, Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih berada di wilayah Kabupaten Manokwari, Propinsi Papua Barat, dan Kabupaten Paniai, Propinsi Papua.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%) dengan total area 1.453.500 ha. Dasar penetapannya adalah Keputusan Menteri Kehutanan No. 8009/Kpts-II/2002.

Kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih terletak pada wilayah yang beriklim tropis yang lembab. Curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1.295 - 3.703 mm, dengan suhu udara antara 21,2° - 33,1°C. Ketinggian tempat antara 0 - 2.252 m dpl.

Taman Nasional Laut ini merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove, dan hutan tropika daratan pulau terletak di wilayah kepala burung Papua.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih memiliki potensi karang yang tinggi, terdiri dari 150 jenis karang dari 15 famili, yang tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil.

Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40% sampai dengan 65,64%. Umumnya, ekosistem terumbu karang terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope).

Jenis-jenis karang yang dapat dilihat antara lain koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates spp.), famili Faviidae dan Pectinidae, serta berbagai jenis karang lunak.

Keanekaragaman jenis moluska sekitar 196 jenis. Beberapa jenis suku Tridacnidae seperti Kima raksasa, Kima kecil, Kima luang dan juga jenis suku Cymatida.
Kawasan ini juga kaya akan jenis-jenis ikan yaitu tidak kurang dari 209 jenis dari 65 suku, dan beberapa penyu antara lain Penyu sisik, hijau, belimbing, sisik semu.
Wilayah ini juga merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi paus dan lumba-lumba. Kedua jenis hewan ini dapat tinggal dengan tenang di sini karena tidak ada pemburu paus ataupun lumba-lumba, serta masih berlimpahnya makanan yang disediakan Teluk Cendrawasih bagi mereka.

Taman nasional ini mempunyai 14 jenis flora yang dilindungi yang sebagian besar didominasi oleh jenis pohon Kasuarina. Tercatat tidak kurang dari 183 jenis satwa dan 37 jenis di antaranya dilindungi, juga 36 jenis burung dan 18 jenis yang dilindungi antara lain Junasi mas (Chaloenas nicobaricca).

Beberapa kegiatan pariwisata yang ditawarkan di Taman Nasional Teluk Cendrawasih

¤ Wisata bahari
gambar Pemandangan bawah laut TNL Teluk Cendrawasih
Pulau Nusrowi, Pulau Yoop, dan Pulau Mioswaar menjadi pilihan yang menarik untuk melakukan wisata bahari. Di perairan pulau-pulau ini, pengunjung dapat menikmati keindahan bawah laut yang penuh warna dan kaya objek yang menggoda mata dengan menyelam. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati perilaku ikan paus dan lumba-lumba.

¤ Wisata budaya masyarakat setempat
Pulau Mioswaar, disini terdapat gua alam peninggalan zaman purba dan juga sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam. Gua ini merupakan gua bersejarah karena di dalamnya terdapat kerangka leluhur etnik Wandau. Konon, merekalah kelompok manusia pertama yang datang ke pulau ini. Di Pulau Numfor, juga terdapat sebuah gua yang di dalamnya terdapat tengkorak manusia serta piring-piring antik dan peti-peti berukir. Apabila menginginkan yang sedikit berbeda, cobalah untuk mendatangi Tanjung Mangguar. Di sini, terdapat gua dalam air dengan kedalaman 100 kaki.

Selain itu, masih ada Pulau Rumberpon yang menawarkan berbagai pengalaman menarik. Di pulau ini, pengunjung dapat melakukan pengamatan terhadap burung, penangkaran rusa, wisata bahari, dan juga dapat melihat kerangka pesawat tempur Jepang yang tenggelam saat perang dunia II.

Untuk mencapai lokasi ini dapat melalui kabupaten Manokwari ataupun dari kabupaten Nabire.
Kabupaten Manokwari ke Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih sekitar 95 km, dengan menggunakan transportasi kapal perintis dengan jarak tempuh 18-20 jam atau dapat juga menggunakan pesawat jenis Twin Otter. Namun, setelah perjalanan udara, perjalanan selanjutnya tetap harus dilanjutkan dengan motor tempel selam 3-4 jam. Bila melalui kabupaten Nabire ke lokasi sekitar 38 km, dapat menggunakan perahu motor dengan waktu tempuh 2 - 3 jam.

Sumber :
»»Ekosistem Pesisir dan Laut:
Ancaman, Bencana, dan Pengelolaan

Del Afriadli Bustami, Linda Christanty, Mashuri Imron, Jakarta, COREMAP-LIPI, 2008
»»www.Dephut.go.id
»»www.wisatamelayu.com

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!