»»

...

Melirik Mutiara Indonesia di Pesisir Utara Papua

Pulau Supiori menyimpan berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Sayangnya, semua potensi ini belum seutuhnya dikelola.

KABUPATEN Supiori, merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Biak Numfor berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2003, tanggal 18 Desember 2003. Kabupaten ini terletak di sebelah utara pulau Biak. Hampir separoh wilayahnya terdiri dari gugusan kepulauan. Masyarakatnya secara antropologis memiliki kesamaan dalam banyak hal. Misalnya adat-istiadat pembayaran maskawin, dan sistem nilai budaya. Meskipun demikian, secara administratif Pemerintahan daerah, Supiori telah resmi berdiri sendiri sebagai sebuah wilayah yang berhak mengatur dan mengelola rumah tangganya sendiri terpisah dari Pemerintah Kabupaten Biak Numfor sesuai asas desentralisasi.

Awal pembentukannya wilayah Supiori meliputi seluruh Pulau Supiori yang terdiri dari Kecamatan Supiori Utara, Selatan, dan Timur. Kecamatan Supiori timur dibentuk sebelum pemekaran. Wilayahnya merupakan gabungan beberapa kampung dari Supiori Utara masing-masing kampung Wafor, Sauyas, Sorendiweri, dan kampung Waryesi. Namun setelah dimekarkan maka Kabupaten Supiori memiliki lima distrik dengan 38 kampung.

Supiori banyak menyimpan potensi sumber daya alam yang potensial untuk dikembangkan bagi kemajuan dan perkembangan masyarakatnya seperti potensi kelautan, dan pariwisata. Dari sisi panorama alam, ada banyak tempat-tempat yang menakjubkan dan memiliki ciri khas yang sangat berbeda dengan daerah lain.
Ada sejumlah lokasi yang eksotik dan cocok untuk dijadikan obyek wisata bahari. Apalagi sangat didukung dengan pemandangan “sunset” dari semenanjung Sorendiweri. Para pelancong akan terkesima dan terkagum-kagum menyaksikan “beauiful vieuw” yang dijamin tak kalah menakjubkan bila dibanding dengan “sunset” di pantai Kuta, Denpasar, Provinsi Bali.

Supiori dapat dijangkau melalui darat dan laut. Jalan darat dapat ditempuh melalui jalan lingkar utara dan lingkar barat pulau Biak. Melalui laut dapat dijangkau sekitar 30-45 menit, sedangkan melalui jalur darat membutuhkan waktu kurang lebih dua sampa empat jam.
Dengan terhubungnya jalan darat justru semakin memperlancar akses pembangunan, pelayanan pemerintah kepada masyarakat dan juga pemberdayaan rakyat. Seperti kebanyakan penduduk Papua, makanan pokok penduduk Supiori adalah sagu dan talas. Meskipun bukan penghasil padi, di pasar tradisional penduduk bisa mendapatkan beras. Harga beras untuk rakyat miskin (raskin) di Biak yang berharga Rp 1.000 per kilogram di Supiori menjadi Rp 2.000.
Selisih harga 100 persen itu akibat mahalnya biaya angkut. Bukan hanya harga beras yang melonjak. Hampir seluruh kebutuhan yang didatangkan dari Biak paling tidak meningkat 50 persen. Peningkatan harga itulah yang ditanggung penduduk Supiori.

Komoditas andalan Supiori antara lain kelapa dan ikan. Pohon kelapa tumbuh di mana-mana. Selain dikonsumsi sendiri kelapa Supiori juga dikirim ke Biak, Jayapura, dan Paniai. Dari kelapa ini pula penduduk membuat minyak goreng untuk kebutuhan rumah tangga.

Petani di Supiori sedang diperkenalkan dengan tanaman vanili yang mempunyai harga jual tinggi. Bibit tanaman yang didatangkan dari Manado dijadikan tanaman percontohan. Kalau berhasil, diharapkan masyarakat tergerak menanami lahan-lahan kosong, pekarangan, dan ladang-ladang mereka dengan tanaman yang punya nilai ekonomi tinggi ini. Pemerintah kabupaten menyiapkan bibitnya.

Ikan di kepulauan ini sejak dulu dikenal luas, seperti tuna, cakalang, tenggiri, baronang. Ikan napoleon yang dilindungi menjadi incaran nelayan-nelayan lain. Ikan ini banyak terdapat di laut wilayah Supiori. Beberapa kali kapal nelayan dari luar Supiori menangkap ikan napoleon secara ilegal tertangkap oleh armada TNI-Angkatan Laut yang berpatroli. Namun, tetap saja pencurian ikan mahal tersebut berlangsung. Di samping itu, terdapat budidaya rumput laut dan teripang.

Harapan menggeliatkan perekonomian melalui sektor pariwisata merupakan peluang yang tidak boleh disepelekan. Sebab kajian yang mendalam akan menjadi rekomendasi untuk pengembangan wisata bahari dengan membuat resor-resor untuk tempat rekreasi dan penginapan, sehingga dari sana perekonomian masyarakat diharapkan semakin membaik. [Gabriel Maniagasi/BintangPapua]

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!