»»

Hasil Perhitungan Suara Pilkada Biak Numfor Putaran Kedua : »» No urut 1: Yesaya Sombuk-Thomas Ondy [31.112 suara] ««»» No urut 2: Yotam Wakum-Mahanusu [24.779 suara] ««o»» [ Suara Sah: 55.891 || Update: 11/12, 15:25wit || KPU Biak Numfor ]

Melacak Jejak Perang di Tanah Biak

Mulut goa berdiameter lebih dari 20 meter itu menganga lebar begitu kita menerobos jalan setapak yang masih rimbun dengan pepohonan. Sinar matahari senja yang jatuh di permukaan goa menghasilkan gradasi gelap-terang pada dinding-dinding goa. Terlihat akar-akar pepohonan bergelayut di atas permukaan dengan sisa-sisa embun yang masih membasah. Batuan kapur tegak membentuk sisa-sisa pilar di dinding atas dan di dasar goa. Ketika menuruni puluhan anak tangga menerobos kedalam goa, lembabnya dinding kapur melambungkan bayangan ketika para serdadu Jepang bertahan di dalam dan mencoba menyiasati kejaran tentara Sekutu dibawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur yang tersohor itu, medio 1940-an.


Inilah wajah goa peninggalan Perang Dunia II yang tersisa di Pulau Biak.
Serangan Batalyon I Infanteri 162 pada tanggal 21 Juni 1944 telah meninggalkan jejak, mengangakan mulut goa, meninggalkan puing-puing sisa kekejaman perang. Goa tempat pengendalian logistik pasukan Jepang di bawah pimpinan Kolonel Kuzume ini terletak di wilayah Desa Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Lokasi ini hanya berkisar lima kilometer dari pusat kota. Bandara Frans Kaisiepo bisa dilihat tidak berapa jauh dari kawasan ini. Selepas keluar kawasan goa jepang, tepat di mulut "pintu angin" pada puncak bukit kapur, pandangan bisa langsung tertumbuk pada landasan panjang.


"Tidak kurang 3.000 tentara Jepang tewas di sini karena serangan Sekutu," kata Sekretaris Yayasan Binsari Jefta Kapitarauw (36) memulai cerita saat menemani perjalanan Kompas menyusuri kedalaman goa Jepang. Masuk pertama ke Pulau Biak pada periode 27 Mei sampai 7 Juni 1944, tentara Sekutu menggelar operasi sepanjang 15-27 Juni 1944 di bawah pimpinan Letnan Jenderal L Eichelburger. Ribuan tentara Jepang lainnya juga tewas atau memilih harakiri dalam pertempuran di wilayah Pantai Bosnik dan Paray di wilayah Biak Timur dan di Wardo, Biak Barat.

Merujuk sejarahnya, goa ini sebelumnya dikenal sebagai Goa Abyab Binsari yang dalam bahasa Biak berarti Goa Nenek. Konon, goa ini memang pernah ditinggali seorang nenek. Peranglah yang kemudian membuatnya menjadi goa persembunyian yang cukup nyaman bagi bala tentara Nippon. Jika tidak, untuk apa ada tatanan ruangan yang begitu lengkap, seperti ruangan perwira dan ruang pertemuan utama?
Kenyamanan tentara Jepang yang terusik ketika tentara Sekutu dengan bantuan telik sandi yang disebar ke berbagai penjuru berhasil menemukan mereka. Hantaman bom dan semprotan gas beracun menjadikan goa ini lubang besar pembantaian yang meninggalkan peringatan atas kekejaman perang.

Menyusuri jalanan batu berplester selebar dua meteran, kesegaran langsung terasa dari rimbun pepohonan di kanan-kiri. Suara burung sesekali terdengar saat menapakkan langkah semakin jauh meninggalkan pintu masuk. Di lokasi ini juga terlihat tonggak kayu yang dibangun oleh Pemerintah Prefecture Yamagata sebagai penanda warga mereka yang menjadi korban perang di Pulau Biak. Juga terlihat sisa-sisa bekas perang, seperti bom, meriam, atau bangkai kendaraan yang terpecah-pecah. Menurut Jefta, mesin-mesin perang Sekutu dan Jepang gampang saja dibedakan. Dengan ukuran yang sama, buatan Amerika selalu lebih ringan. "Sementara mesin buatan Jepang beratnya luar biasa. Mungkin itu yang membuat Jepang kalah perang di sini," kata Jefta sembari terkekeh.

Menapaki puluhan anak tangga menuruni goa, suara tetesan air masih sesekali terdengar. Jefta menceritakan, stalaktit yang berada di langit-langit goa sudah rusak parah sejak pertama kali ditemukan oleh masyarakat sekitar. Saat bersembunyi di goa-goa itu, pasukan Jepang diyakini telah dengan sengaja memotong kerucut yang menempel di dinding atas goa untuk mendapatkan air bersih. Apa lacur, air tidak diperoleh dan bentukan alam yang membutuhkan waktu ratusan tahun itu pun rusak, tak lagi menyisakan keindahan. Ada dua ruangan besar di barat dan timur di kawasan Goa Jepang di Binsari ini. Keduanya dihubungkan sebuah lorong panjang yang membutuhkan fisik prima untuk menyusurinya. Tanjakan dan bongkahan batu kapur di dasar goa menuntut kewaspadaan ekstra.

Perjalanan di tanah Biak memang menyisakan penggalan episode perang yang menarik. Goa jepang di Binsari bukan satu-satunya peninggalan yang bisa dirangkaikan untuk sebuah perjalanan mengitari Pulau Biak. Masih banyak obyek lain yang bisa dikunjungi, yang bisa dihabiskan dalam sehari perjalanan dengan kendaraan sendiri. Pasalnya, lokasi yang berjauhan akan menyulitkan jika kita harus menumpang angkutan umum.

Perjalanan melacak jejak Perang Dunia II di Pulau Biak bisa dimulai dengan menyusuri pinggiran Pantai Bosnik yang bening airnya, yang menyuguhkan pemandangan karang sepanjang garis pantai untuk sampai di Monumen Perang Dunia II di kawasan Paray. Monumen yang terletak di Jalan Raya Bosnik, Distrik Biak Kota, ini hanya sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Biak.

Monumen ini dibangun atas kesepakatan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang, dan diresmikan 24 Maret 1994. Seperti tertulis di atas prasasti peresmian, monumen ini dibangun untuk mengingatkan umat manusia pada
kekejaman perang dengan segala akibatnya.

Sebuah lekukan menyerupai cangkang kerang dengan dua set meja di bawahnya dibangun berseberangan dengan prasasti penunjuk monumen yang dirancang oleh Hiroshi Ogawa ini. Delapan batu karang yang menonjol di depan monumen menjadi pemandangan awal ketika kita membaca tulisan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang, di monumen ini. Sementara di keluasan monumen terdapat balok marmer yang biasa digunakan sebagai tempat duduk. Semuanya berdiri teratur dalam deretan berjarak sama.

Ketika musim libur tiba, ada saja warga Jepang yang datang mengunjungi monumen ini. Mereka yang umumnya orang-orang tua itu biasanya datang berombongan. Tujuannya untuk mendoakan arwah para prajurit yang gugur dalam pertempuran di Biak. "Mereka biasanya datang malam-malam berdoa di sini dengan membawa lilin," cerita Ny Orpa Koibur, penduduk Paray.

Persis di sisi monumen ini, bisa dilongok mulut Goa kapur yang masih tertutup bongkahan besar. Konon, goa tersebut merupakan salah satu tempat persembunyian pasukan Jepang saat dibombardir Sekutu pada perang dahsyat pertengahan tahun 1940-an. Serangan udara kemudian menggelindingkan bongkahan batu yang menutup mulut goa, membuat tentara Jepang terjebak didalamnya. Diyakini masih ada tulang-belulang tentara Jepang yang terkubur didalam goa, selain yang berhasil diambil dan kini disimpan di ruang belakang monumen.

Jefta juga meyakini bahwa mulut goa di kawasan Paray tersambung dengan goa jepang di kawasan Binsari. Panjangnya diperkirakan mencapai tiga kilometer.
Sampai saat ini belum ada speolog yang berani menguraikan jejaring goa kapur yang diyakini sebagai jalur persembunyian pasukan Jepang tersebut. Selain medannya yang diakui masih berat, bahkan ada yang tertutup rapat seperti di Paray, kuatnya kepercayaan masyarakat setempat untuk tidak mengganggu arwah tentara Jepang yang gugur di lokasi itu menjadi salah satu kendala untuk menembus lorong panjang itu.

Jika perjalanan dilanjutkan ke arah Bosnik, masih terdapat bekas persembunyian bala tentara Jepang yang disebut Goa Lima Kamar. Letaknya di Desa Rim, Distrik Biak Timur. Goa bawah tanah yang terdiri atas lima ruangan besar ini ditemukan pemilik tanah Paulus Kafiar pada akhir tahun 1994. Dalam lima ruangan yang ada, selain tulang-belulang ditemukan pula berbagai jenis obat-obatan, lembaran dokumentasi, dan sumur sebagai sumber air minum. Sayangnya, persoalan penguasaan tanah yang belum selesai menjadikan obyek wisata ini tidak bisa dikunjungi lagi. Ketika Kompas tiba di lokasi pertengahan Januari lalu, pintu masuknya tertutup rapat dengan gelungan rantai bergembok.

Seperti disebutkan oleh Kepala Bidang Pengendalian Pembangunan pada Badan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah (BP3D) Kabupaten Biak Numfor Mashuda Kastella, belum ada paket yang bisa dijual dari seluruh jejak perang yang tersisa. Seluruh peninggalan yang ada belum bisa dirangkaikan sebagai sebuah cerita yang memikat para wisatawan. Padahal, Biak Numfor juga Papua secara keseluruhan merupakan lokasi penting dalam penggalan sejarah Perang Dunia II di Asia. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian menjadikan seluruh potensi itu belum tergarap maksimal.

Ketidakpedulian itu pulalah yang kemudian menjadikan beberapa obyek wisata sejarah lainnya terlihat tidak terurus. Markas perang MacArthur yang konon dulunya berlokasi di Kampung Yadibur, Desa Woniki, Distrik Biak Timur, tidak lagi menyisakan secuil jejak. Padahal, dalam timbunan pasir di lokasi yang terletak sekitar 11 kilometer dari pusat kota ini pernah ditemukan gulungan kabel telepon dan generator listrik. Entah di mana sekarang semua koleksi itu tersimpan.

Tugu Peringatan Pemberontakan Pemuda Biak terhadap Pemerintah kolonial Belanda di Desa Sorido pun tidak mengesankan sebagai sebuah peninggalan sejarah yang penting.
Padahal, aksi tanggal 14 Maret 1948 yang dipimpin Hanoch Rumbrar itu meninggalkan cerita mengenai padunya seluruh bangsa Indonesia dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan.

Dalam pemberontakan itu mencuat tokoh perlawanan lainnya, seperti Mantri Polisi Rumah Tahanan Nicakamp bernama Stevanus Joseph yang putra Ambon, dan Petro Djanggi, putra asli Makassar yang bertindak selaku panglima lapangan. Pada akhir babakan perlawanan ini, Hanoch Rumbrar ditangkap dan dibuang selama 10 tahun di Boven Digul. Stevanus Joseph dipenjarakan di Cipinang. Petro Djanggi tertangkap dan kemudian ditembak mati di Jayapura.

Ada juga Tugu peringatan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat yang terletak di Jalan Sriwijaya Ridge. Tugu yang diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 22 September 1969.
Prasasti berisi empat butir keputusan sidang 131 anggota Dewan Musyawarah Pepera Irian Barat, Kabupaten Teluk Cenderawasih, pada tanggal 31 Juli 1969 itu terlihat kusam.

Peninggalan sejarah lainnya yang boleh dibilang cukup terurus adalah Tugu UNTEA yang terletak di Lapangan Hang Tuah, kompleks Pangkalan TNI Angkatan Laut Biak. Tugu ini dibangun tentara Batalyon 14 Angkatan Darat Pakistan yang ditempatkan di Biak pada periode 1 Oktober 1962 sampai 30 April 1963. Pasukan Pakistan ini ditugaskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada masa persiapan penyerahan Irian Barat kepada Pemerintah Indonesia. Jika melihat ke tugu peringatan ini, jangan kaget mendapati perubahan yang cukup mencolok. Sekujur badan tugu yang berbentuk segi delapan ini sudah berganti warna menjadi biru terang!

Sekadar tips untuk menjelajahi jejak sejarah di Biak, wisatawan tidak boleh lelah bertanya. Pasalnya, petunjuk yang ada masih tersebar di banyak tempat, dari banyak mulut. (Sidik Pramono)
[Kompas.com]

Berikan Nilai:

0 komentar: