»»

...

Hutan Beralih Fungsi, Penduduk Asli Papua Kian Terancam

Jayapura- Keberadaan penduduk asli Papua kian terancam seiring makin berkurangnya areal hutan di Papua. Hutan yang selama ini dijadikan sumber kehidupan berubah fungsi menjadi areal kelapa sawit yang dikuasai oleh perseorangan dengan mengatasnamakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Demikian hasil riset Forum Kerja Sama (Foker) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Papua yang disampaikan kepada wartawan dalam rangka Kongres I bertema "Selamatkan Manusia dan Hutan Papua" di Jayapura, Jumat (20/11).

Koordinator Advokasi dan Kebijakan Foker LSM Papua Kenny Mayabubun mengatakan, riset dilakukan sejak awal semester 2008 di lima wilayah adat yang tersebar di Provinsi Papua. Yakni Ha Anim, Womberay, Saireri, Mee Pago, dan Mamta/Tabi.

Riset difokuskan kepada korelasi antara orang asli Papua dengan hutan dan tanah yang hasilnya mengindikasikan bahwa kehidupan orang asli Papua terancam.

Menurut Kenny, filosofi lokal yang dianut oleh orang asli Papua selama berabad-abad bahwa hutan telah menjadi sumber dan kekuatan hidup, tanah yang secara turun-temurun menjadi sumber dan kekuatan hidup, serta media interaksi antara dunia manusia dan dunia roh, semakin hari semakin terancam seiring ketidakberpihakan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pada masyarakat adat.

"Masyarakat adat terdesak oleh keperkasaan konsep dan pemahaman negara atas tanah atau hutan, serta korban pembangunan yang bersifat profit baik oleh pemerintah maupun pihak swasta," ujarnya.

Sementara itu, Solidaritas Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Jayapura juga melakukan penelitian serupa terkait peralihan fungsi hutan menjadi areal kelapa sawit dikaitkan dengan kesejahteraan orang asli Papua di Kabupaten Keerom.

Sekitar 10.000 hektare hutan di Keerom telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit sejak puluhan tahun silam. Awalnya, alih fungsi areal hutan menjadi kebun kelapa sawit bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat asli Papua.

"Tapi, realita yang dirasakan bahwa kehidupan masyarakat setempat tidak merasakan kesejahteraan seperti yang dijargonkan selama ini oleh pemilik lahan kelapa sawit. Orang asli Papua di Keerom tetap hidup di bawah garis kemiskinan," ungkap Pastor Jhon Jonga Pr, seorang tokoh agama dari Keuskupan Jayapura. [Media Indonesia]

»»Penulis : Folmer Marisi

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!