»»

...

Penghormatan Terhadap Pluralitas Wujudkan Papua "Tanah Damai"

Jayapura - Penghormatan terhadap pluralitas antara satu kelompok masyarakat dengan lainnya merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan Papua "Tanah Damai".

Hal itu diungkapkan Dosen Misiologi, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Pastor Dr. Neles Tebay di Jayapura, Senin menyikapi keberadaan umat beragama serta beragamnya etnik dan budaya di Papua.

"Dalam membangun Papua Tanah Damai maka hal penting adalah setiap orang memiliki sikap pengakuan terhadap setiap individu dan kelompok yang berbeda," ujarnya.

Menurutnya, perbedaan agama, ras, etnik dan pekerjaan perlu untuk dikenali dan diterima sebagai sebuah rahmat dan karunia.

Mengabaikan keberadaan orang atau kelompok lain dan mendominasi kelompok lain justru dapat memicu terjadinya konflik kekerasan di tengah-tengah masyarakat, tadasnya.

Dikatakannya, masyarakat harus bisa saling memberi pengakuan yang memungkinkan mereka untuk terbbuka satu sama lain. Keterbukaan tersebut membuat masing-masing pihak bisa belajar lebih jauh tentang tradisi mereka sendiri dan menghargai kekayaan dan kekhususan yang dimiliki.

Dengan mempelajari masyarakat dan kelompok lain, mereka bisa memperoleh pemahaman bersama secara lebih mendalam dan menemukan nilai-nilai yang memberi hidup dalam tradisi orang lain.

"Semua itu membantu membangun sikap saling menerima satu sama lain sehingga menghilangkan sikap saling curiga, tidak percaya dan memarjinalkan kelompok-kelompok tertentu ," kata Pater Neles.

Lebih jauh alumnus Universitas Urbanianum, Roma jurusan Misiologi itu mengatakan, para pemimpin agama di Tanah Papua tidak melihat keberagaman sosial-kultural ini sebagai beban maupun hambatan menuju perdamaian, melainkan sebagai sumber kekayaan yang patut disyukuri dan senantiasa dibangun.

Oleh sebab itu, lanjut mantan Wakil Uskup Jayapura ini, para pemimpin agama mengundang dan mendorong semua orang yang hidup di Papua untuk mengakui dan menerima keberagaman etnis, kultural dan agama sebagai rahmat dari Tuhan, imbuhnya.

"Papua Tanah Damai" merupakan moto sekaligus komitmen yang dideklarasikan para pemimpin agama (Kristen, Katolik, Islam, Hindhu dan Budha) pada 5 Februari 2003.

Motto "Papua Tanah Damai" selanjutnya berkembang menjadi visi dari masyarakat lintas agama di Papua. [Antara/FINROLL News]

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!