»»

...

Anggota Dewan Pilih Kasih

Oleh: Natalia Florencia

Nyawa satu orang yang tertembak polisi lebih berharga dari nyawa belasan orang yang melayang akibat lambatnya penanganan pengungsi.
Lambatnya respon DPRP menangani korban bencana alam di Papua Medio Maret kemarin, sebanyak 13 orang penduduk Kab. Paniai meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda dua distrik di kabupaten itu.

Puluhan ribu warga mengungsi ke dataran yang lebih tinggi selama bermingu-minggu, namun pasokan makanan dan obat-obatan dari pemerintah provinsi Papua tak kunjung datang. Padahal saat itu para pengungsi menderita kelaparan karena tenggelamnya 4.000 Ha lebih lahan persawahan dan matinya 1.000 ekor lebih hewan ternak yang terdiri dari 700 ekor babi, 300 ekor kelinci dan 1.250 ekor ayam.

Tim kemanusiaan korban banjir bandang Paniai pertama kali turun ke lokasi pengungsian pada 10 April 2011 atau sekitar sebulan sejak warga mengungsi, yaitu “Tim Mahasiswa Peduli Kemanusiaan Bencana Banjir di Paniai” dan itupun mereka terlebih dahulu mengirimkan proposal sumbangan ke PT. Freeport Indonesia. Hingga saat ini, belum diketahui realisasi bantuan PT. Freeport tersebut dan hingga saat ini pula, anggota DPRP (DPR Papua) tak kunjung datang ke lokasi pengungsian.

Cepatnya respon DPRP menangani aksi penyerangan Polsek di Papua
Tanggal 13 April kemarin, beberapa orang Bandar judi togel dan preman yang biasa mangkal di Pasar Moanemani, Kab. Dogiyai, Papua mendatangi Kantor Polsek di wilayah itu karena petugas Polsek menyita kupon togel yang dijualnya.
Mereka menuntut Kapolsek agar mengembalikan kupon togel miliknya dan tetap mengijinkan. Karena tuntutannya tidak dipenuhi, mereka merusak kantor dan asrama Polsek, serta membakar dan merusak fasilitas umum yang ada di sekitar Pasar Moanemani, antara lain 4 buah truk, 27 buah sepeda motor, 1 buah stoom walls, 48 kios Sembako berisi 2 ton beras, 1 buah gereja GKI, 1 buah masjid, 201 buah naskah ujian SMK, dan 1 buah BTS Telkomsel. Biadab sekali. Hanya gara-gara polisi melarang judi togel, Gereja GKI, masjid dan naskah ujian siswa SMK menjadi sasaran kemarahan bandar togel.

DPR dan LSM di Papua lebih tertarik mengurusi kasus penyerangan Polsek dibanding mengurusi pengungsi bencana alam.
Mengapa demikian ? Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang dulunya satu provinsi, Papua d/a Irian Jaya ibarat gadis cantik yang diminati banyak orang. Kecantikan Papua bukan pada orang aslinya (maaf), melainkan sumber daya alam dan mineralnya yang menjadikan Papua cantik.

Pemda, DPRP, LSM, mahasiswa dan dewan gereja malas turun ke lokasi pengungsian terkait dengan dukungan sponsor. Secara politik, bantuan kemanusiaan tidak terasa gaungnya di dunia internasional dibanding isu pelanggaran HAM. Bahkan dana bantuan yang diterima untuk korban becana alam harus diaudit secara terbuka oleh akuntan public seperti Ernst & Young. Lain halnya dengan dana bantuan asing untuk provokasi pelanggaran HAM, sponsor tidak akan menuntut laporan keuangan secara detail dan terbuka, karena missi mereka pun sangat-sangat rahasia. Sponsor cukup puas apabila di Papua terjadi aksi kekerasan karena bisa diangkat menjadi isu pelanggaran HAM, yang pada akhirnya melalui tangan-tangan guritanya, sponsor memprovokasi rakyat Papua dan dunia internasional untuk menuntut agar Papua lepas dari Indonesia. Jika missi ini berhasil, sponsor tidak akan menuntut laporan keuangan LSM secara lengkap, karena hasilnya sudah tampak, yaitu telah “terjadi aksi kekerasan dan pelanggaran HAM”.

Sampai kapankah kita harus memelihara dan menjual nasib rakyat Papua ke dunia internasional ?
[regional.kompasiana.com]


Referensi :
http://regional.kompas.com/read/2011/04/01/11014082/Banjir.Bandang.Papua.13.Orang.Meninggal
http://www.tabloidjubi.com/index.php/edisi-cetak/papua-kini/11548?task=view
http://www.jpnn.com/read/2011/04/15/89591/Serang-Polsek,-Seorang-Warga-Tewas-

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!