»»

...

Arus Mudik Dari Papua Diperkirakan Meningkat 10 Persen

Jayapura - Arus mudik Idul Fitri 1432 Hijriah atau pada 2011 di Provinsi Papua diperkirakan meningkat 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Bambang Siswanto, arus mudik untuk angkutan udara diperkirakan kenaikannya sekitar 5-7 persen dan angkutan laut diperkirakan sekitar 7 hingga 10 persen.

“Untuk transportasi darat dan udara dimulai 23 Agustus 2011 (H-7) hingga 7 September 2011 (H+7). Sedangkan untuk transportasi laut dimulai 15 Agustus (H-14) hingga 15 September 2011 (H+15). Sementara untuk permintaan jasa transportasi jalan darat yang terbesar, yakni angkutan kota akan dilayani dengan bus jenis Damri,” kata Bambang, Senin siang, 15 Agustus 2011.

Sementara untuk transportasi laut, kata Bambang, hanya dilakukan antarpelabuhan ke pelabuhan di wilayah Papua. Sedangkan untuk pelabuhan di luar Papua, permintaannya sangat kecil, kecuali tujuan Manado. “Pemakai jasa transportasi laut, selain menggunakan kapal Pelni, juga menggunakan kapal perintis,” katanya.

Sedangkan permintaan pelayanan jasa transportasi udara dari dan ke Makassar, serta Jakarta melalui Bandara Sentani di Jayapura, Bandara Mopah di Merauke, Bandara Frans Kaisepo di Biak, dan Bandara Moses Kilangin di Timika. “Khusus di Papua, permintaan pelayanan jasa transportasi yang paling dominan adalah angkutan udara dan laut,” jelas Bambang.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan angkutan Lebaran di Papua, kata Bambang, untuk angkutan darat pihaknya menyediakan bus Damri sebanyak 63 unit. Adapun angkutan umum untuk seluruh Papua diperkirakan sebanyak 10 ribu unit.

Menurutnya, untuk angkutan penyeberangan laut antarwilayah, yakni melintasi Mokmer (Yapen)-Nabire-Waren (Waropen)-Samabusa (Nabire) dengan menggunakan KM Cenderawasih III. Terus untuk Mokmer (Yapen)-Numfor (Biak) dengan menggunakan KM Kasuari Pasifik IV dan Kabuena-Waren-Samabusa dengan KM Masirei.

Sementara untuk kapal Pelni, ada enam kapal yang melayani dari Jayapura menuju wilayah barat Indonesia, yakni KM Sinabung, KM Ngapulu, KM Gunung Dempo, KM Dorolonda, KM Labobar, dan KM Dobonsolo. Sedangkan untuk transportasi udara itu, PT. Garuda Indonesia, PT. Merpati Nusantara Airlines, PT. Expres Air, PT. Lion Air, dan PT. Metro Batavia.

Menurut Bambang, tarif yang akan diberlakukan harus tetap mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Tahun 2010, baik yang menggunakan pesawat jet, maupun pesawat proppeler.

“Tarif tertinggi Rp 5,3 juta. Di mana untuk full services 100 persen dari tarif maksimum, medium service 90 persen dari tarif maksimum, dan no frills service 85 persen dari tarif maksimum. Ini tergantung dari tingkat pelayanannya. Jika nantinya ada yang melebihi dari tarif tersebut, masyarakat harap segera melapor ke bandara setempat," katanya. [cunding levi-TEMPOinteraktif.com]

Berikan Nilai:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda mengenai posting ini..!!